Jumat, 04 September 2009
Target Indonesia Sehat 2010 Pesimistis Tercapai
Ia menyatakan hal itu saat memberikan kata sambutan Pengucapan Janji Kepaniteraan Dokter Muda Program Studi Pendidikan Kedokteran Universitas Tanjungpura di Pontianak, Senin.
"Di sana tidak ada dokter, mantri kesehatan," kata Cornelis. Untuk mencapai desa itu, ia harus menggunakan mobil, dilanjutkan helikopter, lalu perahu bermotor.
Menurut Cornelis, ada beberapa anak yang kondisi kesehatannya cukup menyedihkan seperti kaki yang dipenuhi bekas luka mengering.
Ia berharap, para calon dokter yang menempuh pendidikan di Universitas Tanjungpura Pontianak tetap melayani masyarakat Kalbar kalau sudah menjadi dokter secara penuh.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalbar, HM Subuh mengatakan, Indonesia Sehat 2010 diantaranya tentang pembangunan berwawasan kesehatan, pembiayaan, manajemen dan kemandirian di bidang kesehatan.
Sedangkan indikatornya, seperti turunnya angka gizi buruk, serta kematian ibu dan anak saat kelahiran.
Ia mengakui, hasil sebuah kajian pada 2006/2007, tingkat pencapaian untuk Indonesia Sehat 2010 di Kalbar masih sekitar 50 persen.
"Sisa waktu yang ada dapat digunakan untuk kemandirian di bidang kesehatan dengan mengaktifkan sektor-sektor swasta," kata HM Subuh yang juga Direktur RSUD dr Soedarso Pontianak.
Di Kota Pontianak, pihak swasta cukup banyak berperan aktif di bidang kesehatan. Menurut dia, hal itu terlihat dengan maraknya klinik kesehatan atau rumah sakit yang dikelola swasta.
Departemen Kesehatan telah mencanangkan visi baru, misi serta kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan melalui Indonesia Sehat 2010 yang dideklarasikan presiden B.J Habibie tahun 1999. Salah satu strateginya di bidang pengembangan sumber daya Manusia Kesehatan adalah pemantapan profesionalisme tenaga kesehatan.(*)
Selasa, 01 September 2009
Mungkinkah Indonesia Sehat 2010??
Indonesia sehat 2010 yang dicanangkan sejak tahun 1999 oleh pemerintah sepertinya masih jauh dari kenyataan. Di tahun 2009 yang merupakan tahun terakhir untuk mencapai Indonesia sehat 2010 masih banyak permasalahan kesehatan yang belum teratasi secara penuh, baik dari tingkat Pusat maupun tingkat daerah Provinsi, Kabupaten/Kota. Ini didasari oleh indikator-indikator dan target-target untuk mencapai program tersebut yang telah ditetapkan oleh Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan RI.
Indikator ataupun target merupakan variable yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Contoh kecil adalah angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup adalah 150, padahal pada data tahun 2007 target tersebut masih jauh dari cukup yaitu 228 per 100.000 kelahiran. Bahkan menurut World Bank Angka kematian ibu saat melahirkan di Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini berdasarkan data penelitian World Bank atau Bank Dunia tahun 2008 ini.
Data Women Research Institute (WRI), angka kematian ibu saat melahirkan dari 302 per 100.000 ibu melahirkan menjadi 420 per 100.000 ibu melahirkan. Hal ini sangat memprihatinkan karena Millinium Development Goals (MDGs) menargetkan 125 per 100.000 ibu melahirkan dan ditargetkan tercapai pada tahun 2015 dan 150 per 100.000 kelahiran hidup untuk Indonesia sehat 2010.
Peningkatan angka kematian ibu saat melahirkan ini disebabkan oleh minimnya anggaran yang diperuntukan untuk penurunan angka kematian ibu dimana saat ini masih dibawah 1% dari APBN atau APBD. Belum lagi pada angka kesakitan, kejadian penyakit menular dan tidak menular, kesehatan lingkungan dan yang tidak kalah penting adalah pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang masih sangat jauh dari memuaskan. Mengenai pelayanan kesehatan (YANKES) inilah sebenarnya yang harusnya menjadi perhatian Pemerintah, baik sarana dan prasarana maupun tenaga medik yang harusnya disiapkan oleh pemerintah.
Sepertinya pemerintah melihat permasalahan kesehatan ini hanya dari permasalahan perkotaan padahal di daerah-daerah tertentu masih banyak balita-balita yang kekurangan gizi, tak diimunisasi, ibu hamil yang tanpa pemeriksaan dan pada saat melahirkan hanya ditolong oleh dukun karena ketiadaan tenaga medik (Bidan).
Jadi apa sebenarnya yang harusnya menjadi indikator Indonesia sehat? Apakah Indonesia Sehat 2010 akan terwujud? Semoga saja…..Selasa, 07 Juli 2009
kesehatan memang bukan segala - galanya, namun tanpa kesehatan segala - galanya menjadi tidak berarti
Bila kita renungkan pada skala individu maka thema "Kesehatan adalah investasi menuju Indonesia Sehat 2010",akan mengajak kita untuk lebih menghargai arti sehat bagi manusia, karena sehat adalah modal dasar (asset) dalam melakukan segala sesuatu. Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.
Seorang pakar Kesehatan Masyarakat HL. Blume dikatakan bahwa Kesehatan Lingkungan dan perilaku manusia merupakan dua faktor dominan yang berpengaruh terhadap status kesehatan suatu masyarakat. Semakin perilaku manusia bergaya hidup sehat semakin rendah resikonya ia mengalami gangguan kesehatan. Demikian juga halnya dengan faktor lingkungan, semakin sehat lingkungan dimana ia hidup (di rumah, tempat kerja, tempat - tempat umum dan transportasi ), semakin rendah resikonya ia mengalami gangguan kesehatan.
Bila hal itu dilihat dengan pandangan accounting, maka biaya atas upaya manusia atau masyarakat untuk mencegah, mengeliminir atau meminimalkan potensi resiko, agar tidak terjadi sakit, tidak produktif, dan merugikan biaya yang lebih besar, maka upaya dimaksud mestinya dapat dimasukkan kedalam biaya investasi untuk menjaga asset. bukan biaya operasional yang bersifat belaja barang habis pakai ( expences ). Sehingga status kesehatan manusia sebagai SDM dapat dinilai sebagai asset seperti halnya jenis asset lainnya yang memiliki nilai penyusutan (amortisasi ).
Kesehatan tidak identik dengan kedokteran
Seringkali orang mengartikan sama antara kesehatan dan kedokteran. Kesehatan memiliki domain perhatiannya lebih luas dari pada kedokteran. Yang jelas sasaran perhatian kesehatan tidak terbatas pada orang yang sakit saja melainkan juga orang yang sehat. Sedangkan kedokteran lebih menekankan perhatiannya pada orang atau masyarakat yang sakit. Sifat upayanya pada kesehatan bisa bersifat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat (promotif), pencegahan atau minimalisasi potensi resiko (preventif), pengobatan (kuratif ) dan pemulihan atau optimalisasi fungsi (rehabilitatif). Sedangkan pada kedokteran lebih menekankan pada upaya yang bersifat pengobatan atau kuratif yakni identifikasi penyebab sakit, serta memberikan tindakan untuk mengobatinya/mengatasinya secara tepat, atau tindakan pencegahan terhadap tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Oleh karena perhatian kesehatan lebih luas dari perhatian kedokteran maka dapat dikatakan bahwa semua upaya manusia/masyarakat yang ditujukan langsung untuk kepentingan pemeliharaan kesehatan manusia/ masyarakat itu adalah upaya kesehatan sebagai contoh ; pemberdayaan masyarakat bergaya hidup sehat, membangun rumah yang sehat, penyediaan air bersih yang sehat dan memadai, berolahraga, cara kerja yang sehat dan aman, cara makan yang sehat, memelihara kualitas lingkungan hidup manusia yang sehat, perencanaan pembangunan kota yang sehat, dll, termasuk didalamnya pelayanan kedokteran kepada orang sakit.
Pemeliharaan kesehatan itu adalah Hak Azasi manusia, maka status kesehatan bangsa Indonesia ini tidak hanya dihasilkan oleh kinerja Departemen Kesehatan saja, melainkan merupakan resultante dari upaya bersama dari masayarakat dan pemerintah termasuk depatermen non kesehatan. Oleh karenanya appresiasi dan support terhadap upaya masyarakat dan departemen lain perlu terus dikembangkan untuk mencegah persepsi bahwa upaya kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah yaitu sektor kesehatan saja.
Dilihat dari aspek pembiayaan kesehatan maka biaya atas upaya individu untuk memelihara kesehatannya (HAM) maka menjadi tanggung jawab individu tersebut (private finance) seperti; berobat ke Rumah Sakit/Puskesmas, beli obat sendiri, konsultasi ke dokter, dll. Sedangkan biaya kesehatan untuk kepentingan masyarakat banyak menjadi tanggung jawab bersama yang dikelola oleh pemerintah (public finance) seperti ; immunisasi, penyediaan air minum, lingkungan hidup yang sehat, pengendalian vektor penyakit, dll. Dari aspek pembiayaan kesehatan yang lebih penting dibiayai oleh public finance adalah upaya-upaya yang bersifat untuk kepentingan publik yakni upaya kesehatan masyarakat, bukan upaya kedokteran yang seharusnya menjadi tanggung jawab private finance, kecuali untuk subsidi masyarakat tertentu yang membutuhkan. Untuk mengoptimalkan peran private finance agar lebih effisien, perlu dikembangkan sistem pembiayaan kesehatan yang dibiayai oleh Private finance dengan sistem asuransi.
Paradigma sehat
Paradigma sehat sebenarnya bukan paradigma baru bagi dunia kesehatan masyarakat namun menjadi orientasi baru bagi Departemen Kesehatan dalam melaksanakan pembangunannya sejak tahun 1999 yang telah dinyatakan oleh Menteri Kesehatan saat itu ( Prof.dr. FA. Moeloek ) dan dicanangkan oleh Presiden Habibie "Pembangunan Berwawasan Kesehatan" (Maret 1999). Penulis menghargai kebijakan beliau yang tepat untuk membawa departemen Kesehatan kepada orientasi Kesehatan yang lebih luas, bukan orientasi kedokteran yang lebih sempit.
Kenaapa orientasi tersebut secara formal perlu dicanangkan menjadi suatu kebijakan, mungkin saja karena dulunya prioritas perhatian sektor kesehatan masih memprioritaskan masalah - masalah penyakit yang mewabah saat itu seperti wabah Pes, Malaria, Demam Berdarah, sehingga tanpa disadari terjebak pada orientasi mengatasi penyakit yang sebenarnya adalah domain dari kedokteran. Salah satu yang dapat dijadikan indikator sejauh mana Departemen Kesehatan memiliki komitmen terhadap orientasi Paradigma sehat yang telah secara formal dicanangkan, adalah dengan membandingkan prosentase alokasi anggaran upaya promotif, preventif dengan alokasi upaya kuratif. Bila alokasi anggaran masih lebih besar pada anggaran yang bersifat upaya kuratif, maka paradigma sehat yang dicanangkan tersebut masih belum berhasil menjadi komitmen Depkes itu sendiri.
Visi Indonesia Sehat 2010
Visi Indonesia Sehat 2010 yang telah dirumuskan oleh Dep.Kes (1999) menyatakan bahwa, gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah Republik Indonesia.
Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Masyarakat Indonesia yang dicita citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.
Visi tersebut telah tiga tahun yang lalu berhasil dirumuskan oleh Departemen Kesehatan RI yang mestinya telah dijabarkan kedalam program kerja yang lebih bersifat operasional untuk mencapai visi itu. Beberapa tahun lagi kita akan mencapai tahun 2010, dan saat itu kita tentu akan menyaksikan bersama apakah gambaran tersebut akan menjadi kenyataan?. Namun yang perlu kita renungkan visi Indonesia sehat 2010 sebenarnya visi siapa? Bila itu merupakan visi Departemen Kesehatan RI saja atau yang dirumuskan hanya oleh beberpa pejabat saja sedangkan dalam cita citanya adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat.
Pertanyaanya berikutnya adalah bagaimana masyarakat Indonesia ikut merasa meiliki terhadap visi itu karena ia ditempatkan sebagai subyek yang harus berubah. Namun jika itu adalah perwujudan dari visi bangsa Indonesia, pertanyaanya adalah sejauh mana keterlibatan masyarakat/bangsa Indonesia ini terlibat dalam merumuskan visi itu sehingga mereka juga punya komitment untuk merealisasikan visi tersebut. Bila kita lupakan saja itu visi siapa yang jelas seperti yang saya uraikan sebelumnya baha status kesehatan bangsa Indonesia merupakan resultanste upaya bersama, maka yang harus kita upayakan adalah bagaimana visi Indonesia 2010 sehat, itu menjadi milik dan bagian dalam kehidupan bangsa Indonesia. Tanpa masyarakat dan sektor lain merasakan itu, maka komitmennya untuk ikut mewujudkan visi tersebut juga akan lemah, karena untuk mewujudkan visi dibutuhkan komitmen semua pihak (stakeholder).
Akhirnya kita sebagai bangsa Indonesia perlulah merenung sejenak untuk membayangkan dapatkan visi mulia "Indonesia Sehat 2010 " itu akan terwujud. Tentunya kita tidak berharap bahwa pada saatnya nanti visi itu akan menjadi sekedar jargon yang terlewatkan dan terlupakan begitu saja. Sementara dunia telah metapkan status kesehatan masyarakat menjadi salah satu komponen Human Development Index ( HDI ) yaitu indikator kemajuan kualitas SDM suatu bangsa.
Kamis, 12 Maret 2009
Kalian Perlu Tau...!!1
Menurut penelitian terbaru mandi ternyata tidak hanya baik untuk membersihkan tubuh dari kotoran dan menjauhkan stress, tapi mandi juga memiliki peranan penting meningkatkan sistem kekebalan, membantu kulit terhindar dari penyakit seperti eksema dan bahkan menyembuhkan masalah medis serius.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan penderita diabetes yang menghabiskan hanya setengah jam berendam dalam bak air hangat dapat menurunkan tingkat gula darah sekitar 13 persen.
Penelitian terpisah di Jepang menunjukkan 10 menit berendam dalam air hangat dapat memperbaiki kesehatan jantung baik pria maupun wanita, membantu mereka menjalani test olahraga lebih baik dan mengurangi rasa sakit.
Apa manfaat mandi dan berapa lama anda sebaiknya mandi? Berikut beberapa petunjuk mandi asyik dan menyehatkan:
Mengeluarkan racun
Mandi air hangat sekitar 32-35 derajat Celsius membuka pori-pori yang dapat membantu mengeluarkan toksin. Mandi air hangat juga dapat membantu menurunkan tingkat gula darah, menyembuhkan sakit otot dan membantu menjaga usus besar bekerja dengan baik. Waktu yang dianjurkan selama 10-20 menit.
Stress
Jika anda benar-benar mengalami stress, mandi air dingin akan menjadi jawaban yang tepat. Temperatur yang dianjurkan sekitar 12-18 derajat Celsius. Mandi air dingin sangat baik meredakan ketegangan, sebaliknya dari air hangat karena mandi air dingin dapat mempersempit darah dan meningkatkan tingkat gula darah.
Eksema
Penyakit kulit tertentu seperti eksema, ruam atau gatal-gatal dengan menambahkan baking soda (sodium bicarbonate) ke dalam bak mandi dapat membuat perbedaan besar. Sodium bicarbonate bertindak sebagai antiseptik. Isi air dengan air hangat kuku, tambahkan kira-kira satu pound baking soda dan aduk sampai rata. Dianjurkan berendam selama 10-20 menit.
Infeksi
Infeksi yeast seperti sariawan dapat dibantu dengan menambahkan tiga atau empat cuka dari sari buah apel ke dalam bak mandi. Ini juga baik untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh karena cuka dapat menyeimbangkan kembali asam. Tambahkan pada air hangat dan berendam selama 15-20 menit.
Flu dan Sakit Kepala
Merendam kaki dalam air hangat dapat membantu menyembuhkan flu dan sakit kepala dan juga menyegarkan kembali kaki yang lelah. Masukan air hangat secukupnya dalam bak sampai menutupi kaki dan pergelangan kaki tambahkan beberapa tetes minyak seperti lavender, peppermint atau lemon. Setelah selesai basuh dengan air dingin. Lakukan selama 10-20 menit.
Insomnia
Merendam kaki dalam air dingin sangat baik bagi anda yang memiliki masalah insomnia atau mereka yang memiliki masalah tidur. Masukan kaki sampai kaki merasa dingin. Pengobatan ini juga berguna bagi kaki lelah, pendarahan hidung, flu dan sembelit.
Sirkulasi
Cobalah merendam kaki secara bergantian antara air hangat dan air dingin jika anda mengalami masalah sirkulasi. Mulai dengan merendam kaki selama satu atau dua menit dalam air hangat, kemudian 30 menit dalam air dingin. Cobalah lakukan selama 15 menit kemudian diselesaikan dengan air dingin.Jumat, 13 Februari 2009
Bahaya Demam Berdarah
KEPEDULIAN ANDA merupakan suatu modal untuk meningkatkan pembangunan pada bidang kesehatan di Indonesia.
Tanggal 1 Maret 1999 Presiden BJ Habibie memang mencanangkan gerakan pembangunan berwawasan kesehatan sebagai strategi pembangunan nasional untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Diharapkan pada tahun 2010 penduduk Indonesia dapat hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Saya dapat memahami kekecewaan Anda karena kenyataannya sekarang bangsa Indonesia belum hidup dalam lingkungan yang sehat, dan pelayanan kesehatan yang memadai belum dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Masih banyak saudara kita yang tak mampu berobat karena tidak mempunyai uang.
Kondisi lingkungan juga masih memprihatinkan. Keluarga Indonesia yang mempunyai rumah sehat baru 84,5 persen, keluarga yang menikmati air bersih baru 72,9 persen, sedangkan yang memiliki jamban sehat hanya 58,1 persen. Dengan demikian, berbagai penyakit menular masih mengancam masyarakat, termasuk diare, demam berdarah, dan malaria.
Keadaan Malaysia dan Singapura memang lebih baik daripada Indonesia. Kesadaran penduduk maupun keadaan perumahan serta lingkungannya lebih menjamin upaya pengendalian perkembangbiakan nyamuk Aedes.
Sebenarnya Pemerintah Indonesia telah berusaha mengembangkan program lingkungan sehat, menumbuhkan perilaku sehat, serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Juga diusahakan upaya kesehatan, perbaikan gizi, pengadaan obat, serta peningkatan kemampuan manajemen kesehatan. Namun, upaya tersebut baru akan berhasil jika didukung oleh semua pihak.
Indonesia pernah dikenal sebagai negara yang pemerataan layanan kesehatannya baik karena lebih dari 7.000 puskesmas tersebar sampai ke pelosok tanah air, termasuk di pulau-pulau kecil. Namun, kini semua harus menghadapi kenyataan bahwa jumlah puskesmas yang tidak mempunyai dokter semakin banyak. Ini berarti semangat para dokter untuk mengabdi dan bekerja di daerah terpencil harus dihidupkan kembali.
Alokasi dana kesehatan dalam anggaran belanja negara masih amat terbatas sehingga kemampuan pemerintah untuk mengembangkan program kesehatan juga terbatas. Semua pihak perlu menyadari bahwa untuk membangun sumber daya manusia yang dapat diandalkan, diperlukan penanaman modal di bidang pendidikan dan kesehatan.
Banyak negara yang keadaan ekonominya lebih sulit daripada Indonesia, tetapi tetap memprioritaskan pembangunan pendidikan dan kesehatan. Kuba yang mempunyai sumber daya alam terbatas, misalnya, menganggarkan 30 persen untuk pendidikan dan 12 persen untuk kesehatan dari anggaran belanjanya. Hal ini yang membuat Kuba dapat menduduki peringkat 52 indeks pembangunan manusia (Indonesia pada peringkat 112).
Dengan demikian, para pengambil keputusan di Indonesia perlu memperjuangkan peningkatan anggaran kesehatan yang masih kurang dari lima persen.
Namun, derajat kesehatan masyarakat Indonesia sebenarnya mengalami perbaikan yang cukup nyata meski peningkatan tersebut dipengaruhi oleh krisis ekonomi yang berkepanjangan. Pada tahun 1967 angka kematian bayi di Indonesia 145 per 1.000 kelahiran hidup, namun tahun 1991 berhasil diturunkan menjadi 51 per 1.000 kelahiran hidup.
Begitu pula usia harapan hidup waktu lahir yang pada tahun 1967 hanya 45,7 tahun, sedangkan tahun 1991 menjadi 64,4 tahun. Penyakit anemia juga menurun dan penyakit polio dapat ditekan. Di segi lain memang terjadi perubahan pola hidup sehingga penyakit degeneratif semakin meningkat, seperti penyakit jantung, hipertensi, kanker, diabetes melitus, serta penyakit paru kronik.
Kesimpulannya, memang masih dibutuhkan kerja keras untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Masih banyak rintangan yang harus dihadapi, namun kepedulian semua pihak terhadap kesehatan serta visi bersama yang telah dicanangkan mudah-mudahan akan menjadi motivasi kuat bagi semua.
Jika menonton televisi sekarang ini, memang tidak ada negara di dunia yang hidup dalam keadaan tenteram dan bebas dari penyakit. Bencana terjadi di mana-mana dan wabah penyakit juga timbul di negara maju. Karena itu, kita tidak usah berputus asa, tetapi membulatkan tekad untuk menuju ke sana. Insya Allah dengan usaha keras, bangsa Indonesia bisa mencapai cita-cita Indonesia Sehat 2010.
Sabtu, 31 Januari 2009
Wapres : Indonesia Sehat Belum Bisa Terwujud
Untuk itu, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengembalikan lagi unsur-unsur baik yang pernah hidup pada era Presiden Soeharto, seperti revitalisasi Posyandu, penggiatan dokter Puskesmas, Apotik Keluarga, Jumantik (Juru Pemantau Jentik) dan Mantri Kesehatan.
Jika masyarakat dilibatkan dalam menjaga kesehatan dan lingkungan, kata Kalla, jumlah kasus-kasus kesehatan yang dialami masyarakat saat ini, seperti AIDS, kematian bayi dan ibu, dapat diturunkan.
Dia mengatakan, kesehatan jangan diartikan secara sederhana, yaitu yang berhubungan dengan urusan dokter dan rumah sakit. “Dokter dan rumah sakit adalah terminal akhir,” kata dia saat memberikan sambutan pada upacara puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-41 di Subang, Kamis (8/12).
Dalam usaha menjaga kesehatan masyarakat, ia meminta agar program-program kesehatan disesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan masing-masing daerah. “Tidak usahlah pakai motto gizi berimbang. Pakai saja 4 sehat 5 sempurna yang lebih dimengerti masyarakat,” jelasnya.
Dia juga mengimbau para gubernur, bupati, dan wali kota agar aktif dalam program kesehatan masyarakat. “Karena otonomi harus bertujuan mensejahterakan masyarakat,” imbuhnya
Sabtu, 22 November 2008
Hidup Sehat...?? Mudah Kok..?!!
Menurut Pete Cohen, psikolog dan physical trainer, bahwa tidak ada manusia lahir dengan kebiasaan buruk. Kebiasaan ini dipelajari saat tumbuh dewasa. Cara yang paling jitu untuk membuang kebiasaan buruk adalah dengan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Menurut beberapa penelitian, diperlukan pengulangan 20 - 30 kali untuk kemudian menjadi kebiasaan baru.
Apakah semudah itu ??, sepertinya mudah saja, tapi kalau dijalani mengapa sulit??, karena kita memang hidup dilingkungan yang sudah mengesahkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu menjadi hal yang biasa.
Ada beberapa tips dibawah ini, mengenai cara menghargai hidup dengan menjalani hidup secara sehat dan teratur, yaitu:
1. Minum air putih secara cukup
Kenapa terjadi? tubuh manusia tidak akan memberi sinyal berupa rasa haus sampai tubuh benar-benar kekurangan air atau mengalami dehidrasi.
Mengapa air putih? karena dua per tiga tubuh kita terdiri dari air, maka air merupakan unsur terpenting bagi tubuh. Setiap hari kita kehilangan 1,5 liter air lewat kulit, paru-paru dan ginjal (berupa air kencing). Untuk itu kehilangan itu harus digantikan dengan jumlah yang cukup, sehingga tubuh akan terhindar dari kelelahan, sakit kepala, kulit kusam dan bad mood.
2. Sarapan pagi setiap hari
Kenapa terjadi? Alasan yang sering didengar adalah karena tidak cukup waktu untuk sarapan.
Mengapa sarapan? Kalau sarapan terlewatkan maka akan mempengaruhi produktivitas kerja. Untuk itu 'dengarkan' tubuh anda dengan melakukan sarapan sehat secara rutin setiap hari. Sarapan sehat adalah makanan ringan yang cukup gizi seperti segelas susu atau jus buah atau sarapan siap saji yang kaya gizi dan rendah lemak.
3. Makan siang yang bergizi
Kenapa terjadi? Karena biasanya kelebihan karbohidrat sering terjadi saat makan siang, atau kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein sebagau sumber energi.
Mengapa harus bergizi? Biasanya ngemil makanan tinggi kalori akan jadi pilihan utama apabila rasa lapar menyerang, seperti cokelat, keripik atau biskuit, yang banyak mengandung lemak, gula dan garam.
Untuk itu memilih makan siang yang bergizi adalah cara yang bijaksana untuk mengatasi rasa lapar. Cara yang bijaksana menurut Dr. Wendy Doyle, ahli diet, dengan cara menambah lauknya, makan sepotong buah atau segelas yoghurt.
4. Siasati makan malam
Kenapa terjadi? Biasanya setelah lelah seharian kerja, maka akan malas kalau harus mempersiapkan makan malam.
Mengapa disiasati? Karena biasanya bila tidak mempersiapkan makan malam maka fast food atau take-away food, yang pasti mengandung tinggi lemak dan garam. Cara mengatasinya??, makan sesuatu sebelum pulang kantor dan mengisi kulkas dengan bahan makanan yang lebih tahan lama simpan untuk keadaan darurat. Kalau terpaksa membeli makanan, lebih baik hindari makanan yang digoreng dan pikirkan makanan tersebut mengandung gizi, yang paling tidak, cukup.
Jumat, 31 Oktober 2008
Sehat Itu Gaya Hidup
Demikian penegasan Menkes DR. Dr. Fadilah Supari, Sp.JP dalam sambutannya pada Upacara Apel Bendera memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-40 dengan tema "Sehat Itu Gaya Hidup" tanggal 12 November 2004 di Kantor Depkes Jakarta. Pada Apel Bendera yang diikuti karyawan Depkes dan Akademi Kesehatan dan 4 pleton anggota TNI dan POLRI juga dimeriahkan kehadiran sebuah Helikopter TNI-AL membawa Towing Banner bertuliskan "Sehat Itu Gaya Hidup" yang terbang melintas diatas Gedung Depkes. Menkes menegaskan, pemilihan tema "Sehat Itu Gaya Hidup", dimaksudkan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk memperlakukan sehat sebagai instrumen atau modal dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sehat dalam kultur masyarakat termasuk sebagai salah satu nilai penting dalam sistem nilai (value system). Namun demikian diantara nilai-nilai yang ada dalam sistem itu, sehat tergolong sebagai nilai instrumental. Artinya, sehat jangan dilihat sebagai tujuan hidup melainkan sebagai modal dan alat untuk mencapai tujuan-tujuan hidup. Tanpa alat ini (kesehatan), semua tujuan hidup tidak akan tercapai dengan baik. Sehat bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan segalanya bukan apa-apa, ujar Menkes. Selain itu masyarakat juga diingatkan tentang perlunya tiga perilaku yang terpenting yaitu tidak merokok dan madat, beraktivitas fisik secara teratur dan mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Apabila tiga perilaku itu dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka sehat dapat dicapai oleh setiap orang. Masyarakat yang berperilaku sehat akan dapat menciptakan dan memelihara lingkungan yang sehat. Masyarakat yang sehat juga akan memanfaatkan pelayanan kesehatan dengan sebaik-baiknya dan turut serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berbasis masyarakat. Sedangkan petugas kesehatan yang berperilaku sehat akan responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Dengan demikian pada gilirannya ketiga pilar visi "Indonesia Sehat" yaitu perilaku sehat, lingkungan sehat serta pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata akan tercapai. Dengan begitu, mimpi kita tentang Indonesia yang sehat di masa depan akan benar-benar terwujud. Menkes mengakui kendati telah banyak keberhasilan yang dicapai dalam bidang kesehatan, namun masih banyak pula masalah kesehatan yang harus dihadapi seperti kematian bayi yang masih banyak, Balita (anak dibawah usia lima tahun) bergizi kurang serta kematian ibu melahirkan (maternal) yang mencapai 40 orang setiap hari. Kematian bayi (Infant Mortality Rate=IMR) berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 1994 sebesar 57 per 1000 kelahiran hidup, telah dapat diturunkan menjadi 35 per 1000 pada tahun 2002-2003. Sedangkan target/sasaran berdasarkan Indikator Indonesia Sehat 2010 sebesar 33 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2015 (Millineium Development Goal/MDG) sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian anak Balita (Under 5 Mortality Rate) berdasarkan SDKI tahun 1994 sebesar 81 per 1000 kelahiran hidup telah dapat diturunkan menjadi 46 per 1000 pada tahun 2002-2003. Sedangkan target berdasarkan IIS 2010 sebesar 39 per 1000 kelahiran hidup dan 30 per 1000 kelahiran hidup berdasarkan MDG. Angka kematian ibu melahirkan (Maternal Mortality Rate) berdasarkan SDKI tahun 1994 sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup telah dapat diturunkan menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003. Sedangkan sasaran berdasarkan IIS 2010 sebesar 150 per 100.00 kelahiran hidup dan 230 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan MDG. Umur Harapan Hidup dapat ditingkatkan dari 63,48 pada tahun 1995 (SUPAS 1995) menjadi 67,97 pada tahun 2000 (Sensus Penduduk = SP 2000). Angka kesakitan malaria di Jawa dan Bali menunjukkan API (Annual Parasite Incidence pada tahun 2000 sebesar 31 per 1000 penduduk telah dapat diturunkan menjadi 0,35 per 1000 penduduk pada tahun 2003. Sedangkan AMI (Annual Malaria Incidence) di luar Jawa � Bali pada tahun 2000 sebesar 31 per 1000 penduduk telah dapat diturunkan menjadi 22,77 per 1000 pada tahun 2002. Angka penemuan kasus TBC pada tahun 2003 sebesar 43,3% dari target 50% dengan angka keberhasilan pengobatan sebesar 86,3% dari target 85%. Sedangkan untuk kasus HIV/AIDS di Indonesia telah berubah dari low prevalence level menjadi consentrated level epidemic. Secara kumulatif sampai dengan September 2004 kasus HIV mencapai 3.338 kasus dan AIDS mencapai 2.363 kasus. Provinsi yang melaporkan HIV 29 provinsi dan yang melaporkan AIDS 27 provinsi. Urutan rata-rata kasus AIDS tertinggi ditempati Provinsi Papua sebanyak 20.46 kali angka nasional, disusul Provinsi DKI Jakarta 10,16 kali angka nasional, Bali 2,72 kali angka nasional, Sulawesi Utara 2,38 kali angka nasional, Maluku 2,08 kali angka nasional, Riau 1,63 kali angka nasional dan Kalimantan Barat 1,6 kali angka nasional. Rata-rata kasus AIDS Nasional sampai dengan 30 September 2004 adalah 1,17 per 100.000 penduduk (Sensus tahun 2000). Pada acara peringatan HKN ke-40, Menteri Kesehatan juga menyerahkan penghargaan berupa Tanda Kehormatan Satyalancana Karyasatya kepada Drs. Jahelbin Rumoharbo, Kasie PenyusunanAnggaran RS Jantung Harapan Kita, DR. Ir. Rusmini B.AIM, MM, Lektor Kepala pada Poltekkes Jakarta II Jurusan Teknik Elektromedik dan Suyanto, Staf Bapelkes Cilandak. Selain itu juga diserahkan piagam tanda penghargaan Bakti Karya Husada Tri Windu dan Dwi Windu serta Penghargaan Dosen Politeknik Kesehatan Berprestasi Tingkat Nasional 2004
MENYIAPKAN INDONESIA SEHAT 2010
Ketika topik sudah masuk ke fungsi sosial rumah sakit dan dokter, terus terang saya menyumpah dalam hati atas jawaban-jawaban Rizal, saya kecewa dan mengkal. Kata Rizal kepada saya, rumah sakit bukan lembaga sosial! Rumah sakit perlu hidup. Ia perlu pengembangan teknologi, perbaikan manajemen, dokter-dokternya perlu hidup layak, main golf, pesiar, surfing dan memelihara kesehatannya sendiri. Saya terperangah. Dan semakin sakit hati ketika saya coba beragumen bahwa tidak tidak semua orang mampu membayar rumah sakit seperti dalam mimpi dokter ini, eh dia mengatakan kepada saya dengan enteng: “Kalau mau sehat, ya berhemat dan menabung, berusaha hari ini untuk kesehatan jiwa dan raga masa datang”
Lalu Rizal makin panjang mengkhotbahi saya. Ia katakan bahwa orang Indonesia lebih suka menghamburkan uangnya untuk membeli penyakit dibanding menabungnya bagi pemeliharaan kesehatannya di kemudian hari. “Kalau mau kesehatan terjamin, sejak awal ambil asuransi kesehatan”.
Saya makin mengkal. Dalam pikiran saya tetap saja yang menggumpal adalah fungsi sosial rumah sakit dan kaum dokter. Sehingga nyaris saya abaikan ‘penataran’ soal jaminan kesehatan dan fungsi komersial rumah sakit.
“Lalu kalau ada masyarakat yang butuh pertolongan ke rumah sakit tapi tak punya uang?” tanya saya.
“Saya katakan lagi, Rumahsakit bukan panti sosial. Soal pertolongan atau berjiwa sosial itu soal lain lagi,” katanya tegas.
Terus terang saya jengkel sekali dengan jawab-jawaban itu. Hingga saya pu membatalkan menulis hasil wawancara yang menyangkut topik menyakitkan itu. Waktu pun berlalu. Dr. Rizal tetap dengan keyakinannya, bahkan sejumlah rumah sakit yang ditanganinya kini terus berkembang.
***
Setelah berlalu satu dasawarsa barulah saya sadari bahwa apa yang dikatakan Rizal tidak seluruhnya perlu membuat hati sakit. Sesungguhnya waktu itu ia ingin mengatakan bahwa tindakan preventif menjaga kesehatan jauh lebih penting dari apapun. Penyakit bisa datang lima tahun, sepuluh tahun atau lima belas tahun lagi menyerang kita. Pada saat kita memerlukan perawatan, pada saat itu tak ada lagi persoalan yang menghalangi kita merawat diri, misalnya soal finansial.
Bahkan harus diakui pendapat Rizal itu perlu disosialisasikan lebih luas lagi. Bahwa rumah sakit memang bukan lembaga sosial yang bisa menampung begitu saja korban dampak sosial. Rumah sakit perlu manajemen yang benar, sehingga bisa memenej pasian dengan baik. Rumah sakit perlu lembaga Litbang sendiri, yang membuatnya bisa terus menerus memacu kualitas semua tenaga medis, paramedis maupun non-medisnya.
Lalu apa kaitan fenomena ini dengan program ‘Menuju Indonesia Sehat 2010?’
Harus kita akui, bahwa menuju Indonesia yang sehat adalah pekerjaan tak ringan dan tak murah. Ia memerlukan orang-orang yang powerful untuk menggerakkan semua slagorde masyarakat agar meyakini bahwa sehat itu penting.
Cerita introduksi di atas hanya sedikit dari contoh bahwa pada saat bicara soal kesehatan, harus kesampingkang dulu soal ‘perasaan’. Jika memperturutkan perasaan, siapapun pasti jengkel dengan penjelasan Rizal itu. Tapi, sehat tak boleh kalah dengan perasaan. Paling tidak harus diberikan pengertian bahwa orang yang berperasaan adalah orang yang sehat lahir batin. Orang sakit, kadang makin kehilangan perasaannya.
Tapi seperti apa sih yang kita inginkan kondisi kesehatan manusia Indonesia pada 2010 itu?
Ada banyak hal yang menyangkut soal kesehatan rakyat pada lima tahun mendatang itu. Namun hakikatnya, pada titik capaiannya kelak akan tercipta kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalaui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Itu adalah kalimat-kalimat yang tidak gampang diujudkan. Sebagian besar adalah berintikan penyadaran kepada masyarakat, disamping pemerintah berkewajiban menyediakan anggaran untuk mendukungnya.
Penyadaran itu hingga hari ini masih kita rasakan sebagai hal yang setengah-setengah. Ada sejumlah fakta yang menunjukkan masih perlu genjotan serius bagi kampanye menuju sehat itu. Kita bias lihat dari wabah demi wabah yang menerjang Indonesia.
Ibu-ibu (dibantu kaum Bapak) baru rame-rame ke Posyandu kalau wabah polio sudah berjangkit, kalau demam berdarah sudah menyerang, kalau diare menjadi hatu yang menakutkan.
Orang-orang makin berubah jadi bodoh ketika di bungkus rokok sudah nyata-nyata dicantumkan rokok berbahaya bagi kesehatan, tapi masih saja dengan rakus menghirup candu nikotinnya. Lalu tiada terasa triliunan rupiah amblas setiap tahun hanya jadi abu. Para pemilik pabrik rokok kian gencar berpromosi. Promosinya jauh melampaui promosi antirokok yang semestinya dilancarkan bagi melawan serangan jantung, kanker dan sebagainya.
Orang seperti tak peduli dengan angka-angka dari WHO yang mencatat 12 juta orang pertahun meninggal dibunuh rokok (karena jantungan) pada 1990 lalu tujuh tahun berikutnya angka itu naik menjadi 15 juta orang. Sampai berapa juta orang lagi meninggal karena rokok, hingga bias menghentikan orang-orang kita merokok?
Orang kita sering pelupa. Ketika Tuberculosis (TB) sudah hampir-hampir lenyap di Indonesia apalagi dengan adanya apa yang disebut Gerakan Terpadu Nasional (Gerdunas) dan layanan Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) sejak sekitar enam tahun sila, eh tiba-tiba kini TB bangkit lagi di sana sini.
WHO menengarai di Indonesia setiap tahun ada sekitar setengah juta orang terjangkit TB. Sepertiganya meninggal.
Angka-angka itu menunjukkan kepada kita, bahwa kita senantiasa lengah. Kita kurang care dengan kasus yang sekecil apapun. Baru heboh, setelah epidemi itu menjalar ke mana-mana.
Fisik saja yang sehat bukanlah tujuan dari program kesehatan nasional. Kesehatan jiwa juga merupakan masalah yang pada dasarnya amat menaikkan dan menurunkan derajat kesehatan bangsa.
Kesehatan jiwa belum menjadi kepedulian bersama. “Selama ini program kesehatan jiwa masih terabaikan, sedang program kesehatan hanya terfokus pada kesehatan fisik, kata Menkes Siti Fadilah Supari pada Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2005 belum lama ini.
Lagi-lagi angka-angka dari WHO, bikin kita harus menyadari pentingnya kesehatan jiwa. Diestimasikan oleh WHO, satu dari lima orang di dunia atau sekitar 20 persen penduduk memiliki gangguan kesehatan jiwa mulai tingkat ringan (depresi) sampai tingkat berat (stres)
Lalu kondisi seperti aoa yang hendak kita capai pada 2010?
Sederhananya kita mengacu saja pada UU Kesehatan yang memaktubkan pengertian kesehatan. Bahwa yang disebut sehat itu adalah keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan seseorang hidup produktif. Ini membawa kita pada pengertian bahwa kesehatan itu tidak sekedar fisik belaka. Tapi juga pola hidup, cara interaksi social kita, prilaku, pola makan dan seterusnya yang mestinya ditujukan bagi peningkatan derajat kesehatan, bukan sebaliknya.
Sebaliknya yang menjadi tantangan untuk dibereskan oleh pemerintah dan masyarakat dalam rangka menuju Indonesia Sehat itu adalah hal-hal yang berlawan dengan pengertian kesehatan sebagaimana dimaksud oleh UU Kesehatan itu tadi.
Prilaku sosial dan gaya hidup yang senantiasa mengarahkan kita pada hasrat merokok, menenggak Napza, pola makan yang berlebihan, kekurangsukaan terhadap olahraga, kelemahan sosialisasi dan kampanye kesehatan, keminiman anggaran adalah hal-hal yang merintangi jalan ke arah Indonesia Sehat 2010.
Pada saat sejumlah wabah seperti polio, flu burung, diare, demam berdarah dan sebagainya sedang kita hadapi, saatnya pula kita menyatupadukan tekad untuk menjadi sehat bersama. Membangun Indonesia Sehat tak mungkin hanya dilakukan Pemerintah cq Departemen Kesehatan, tetapi segenap elemen. Karena itu, dapat kita berikan konklusi bahwa kesehatan tak bisa dipandang sebagai hal yang sektoral, melainkan sangat lintas sektoral. Sebagai sebuah departemen teknis, Depkes dan orang-orangnya bertanggungjawab menyusun program dan menyiapkan action plan nya, sementara departemen lain bersama masyarakat harus menjadi supporting unit guna mengejawantahkan program Menuju Indonesia Sehat 2010.
Kita harus berhenti memagut egosektoral sebagaimana selama ini terjadi. Tiap kali ada wabah, yang babak belur adalah orang Depkes. Tiap kali ada KLB (Kejadian Luar Biasa) demam berdarah Depkes dituding lamban. Di masa depan, kita mesti sudah mengubur dalam-dalam semangat mencari kambing hitam. Bahwa ada wabah, maka kesatupaduan penanganan dari lintas-sektoral jugalah yang akan menyelesaikannya.
Masa 2010, bukan waktu yang masih lama. Bahkan itu teramat singkat untuk mewujudkan obsesi Indonesia Sehat. Tapi, apapun, semua tak boleh pesimis, segalanya harus segera kita mulai. Sekarang! Atau tak pernah sama sekali!